Yuk.... Kawan Kita baca lagi mungkin ada yang belum tau tentang sejarah Kabupaten Lumajang.......
Jika orang jawa mengenal
perang Baratayuda yang fenomenal. Terntyata di Lumajang ada perang Bondoyudo
yang diartikan perang pengikatan atau perang yang sangat diikat oleh menjaga
harga diri sebuah negara atau wilayah.
Dihimpun dari berbagai sumber, Baratayuda atau
Baratoyudo, adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang
besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini
merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wiracarita terkenal dari
India.
Istilah Baratayuda berasal dari kata Bharatayuddha
(Perang Bharata), yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang
ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja
Kerajaan Kadiri.
Kisah Kakawin Bharatayuddha
kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuda oleh
pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta.
Sama halnya dengan versi aslinya, yaitu versi
Mahabharata, perang Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga
Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka,
yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.
Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda
sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum
Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain
itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan
berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah
Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.
Bibit perselisihan antara
Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu,
ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara,
bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan
kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih
Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan
sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan
anak-anak Pandu.
Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik
anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak
Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka
selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya
tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan
Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui
permainan dadu.
Akibat kekalahan dalam
perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan
Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat
jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa
menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat
perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.
Perang Baratoyudo, juga terjadi di Kerajaan
Lamajang. Di Bhumi Lamajang atau Wirabhumi juga terjadi perang yakni Bondoyudo.
Nama perang itu kini menjadi sebuah sungai yang membelah kabupaten Lumajang
menjadi dua, wilayah Utara dan selatan.
Dari cerita rakyat di
Lumajang, Sungai Bondoyudo adalah nama perang besar di Kerajaan Lamajang saat
diserang oleh musuh (Mojopahit). Perang besar itu terjadi siang dan malam,
hingga ribuan prajurit dan masyarakat menjadi korbanya.
Akibat perang Bondoyudo menjadi trauma bagi masyarakat
Lumajang wilayah Utara seperi di Kecamatan Kedung Jajang, Klakah, Ranuyoso dan
Randuagung, pasalnya derap kuda musuh kerap mengusuk kehidupan warga disana.
Perang diawali dari probolinggo, senopati Lumajang menghadapi musuh hingga
mundur ke Pajarakan hingga ke Kotaraja Lamajang yang memiliki parit sungai
lebar.
Benteng Kerajaan Lamajang yang
cukup tinggi dan kokoh menjadi pertahanan terakhir bagi pasukan Lamajang.
Sehingga sulit ditembus oleh musuh, panah-panah pasukan lamajang kerap memakan
korban pasukan musuh.
Jika dilihat dari cerita dan fakta sejarah. Kerajaan
Lamajang mendapat serangan besar dari kerajaan Majapahir dibawah kekuasaan
Jayangera, akibat hasutan mahapatih yang menganggap pati Nambi, Amengkubhumi
pertama majapahit saat berkunjung ke Lamajang untuk menemui ayahandanya yang
meninggal dunia.
Lamajang yang tengah bersedih
kehilangan pemimpinya "Arya Wiraraja" yang merupakan ayah Nambi.
Ternyata diserang oleh mojopahit secara mendadak, sehingga pasukan lamajang dan
senopati langsung mengangkat senjata.
Perang hebat terjadi mulai dari Probolinggo yang
merupakaan wilayah kerajaan Lamajang. Akibat kalah besar dalam jumlah pasukan,
para senopatine Lumajang mundur ke Pajarakan dan terus bertempur demi
mempertahankan kerajaan dan tanah kelahiranya.
Perang
terus terjadi mengusikan masyarakat wilayah utara Lumajang dan membuat mereka
mengungsi ke hutan. Perang hebat di Pajarakan mengakibatkan Patih Nambi tewas
ditangan senopati Mojopahit berserta 7 pengikutnya.
Pasukan majapahit terus merangsek maju ke arah Selatan
untuk menguasai kerajaan Lamajang yang sekarang dikenal dengan Situs Biting.
Tangguhnya benteng alam Lumajang dan strategisnya kerajaan yang dikeliling
sungai menjadi kesulitan bagi pasukan majapahit untuk menjatuhkan.
Bukanya bisa menjatuhkan,
pasukan majapahit malah bertumbangan oleh anak panah prajurit lamajang.
Majapahit kewalahan dalam menaklukan Lamajang, akibat mundur. Perang di wilayah
utara Kerajaan Lamjaang dikenal sebagai perang Bondoyudo, karena waktu yang
lama dan memakan banyak korban pasukan Kerajaan Lamajang dan Mojopahit.
Kisah dan cerita rakyat serta ada hubungan fakta sejarah,
betapa hebatnya Lumajang dimasanya. Benteng Kokoh itu masih ada dan memiliki
aura kehebatan orang Lumajang Kuno
No comments:
Post a Comment