Friday, 1 January 2016

Cerita Asal Mula Kabupaten Lumajang

Yuk.... Kawan Kita baca lagi mungkin ada yang belum tau tentang sejarah Kabupaten Lumajang.......

Jika orang jawa mengenal perang Baratayuda yang fenomenal. Terntyata di Lumajang ada perang Bondoyudo yang diartikan perang pengikatan atau perang yang sangat diikat oleh menjaga harga diri sebuah negara atau wilayah.
Dihimpun dari berbagai sumber, Baratayuda atau Baratoyudo, adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wiracarita terkenal dari India.
Istilah Baratayuda berasal dari kata Bharatayuddha (Perang Bharata), yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri.

Kisah  Kakawin Bharatayuddha kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuda oleh pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta.
Sama halnya dengan versi aslinya, yaitu versi Mahabharata, perang Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.
Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.
Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.

Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.
 Perang Baratoyudo, juga terjadi di Kerajaan Lamajang. Di Bhumi Lamajang atau Wirabhumi juga terjadi perang yakni Bondoyudo. Nama perang itu kini menjadi sebuah sungai yang membelah kabupaten Lumajang menjadi dua, wilayah Utara dan selatan.

Dari cerita rakyat di Lumajang, Sungai Bondoyudo adalah nama perang besar di Kerajaan Lamajang saat diserang oleh musuh (Mojopahit). Perang besar itu terjadi siang dan malam, hingga ribuan prajurit dan masyarakat menjadi korbanya.
Akibat perang Bondoyudo menjadi trauma bagi masyarakat Lumajang wilayah Utara seperi di Kecamatan Kedung Jajang, Klakah, Ranuyoso dan Randuagung, pasalnya derap kuda musuh kerap mengusuk kehidupan warga disana. Perang diawali dari probolinggo, senopati Lumajang menghadapi musuh hingga mundur ke Pajarakan hingga ke Kotaraja Lamajang yang memiliki parit sungai lebar.

Benteng Kerajaan Lamajang yang cukup tinggi dan kokoh menjadi pertahanan terakhir bagi pasukan Lamajang. Sehingga sulit ditembus oleh musuh, panah-panah pasukan lamajang kerap memakan korban pasukan musuh.
Jika dilihat dari cerita dan fakta sejarah. Kerajaan Lamajang mendapat serangan besar dari kerajaan Majapahir dibawah kekuasaan Jayangera, akibat hasutan mahapatih yang menganggap pati Nambi, Amengkubhumi pertama majapahit saat berkunjung ke Lamajang untuk menemui ayahandanya yang meninggal dunia.
Lamajang yang tengah bersedih kehilangan pemimpinya "Arya Wiraraja" yang merupakan ayah Nambi. Ternyata diserang oleh mojopahit secara mendadak, sehingga pasukan lamajang dan senopati langsung mengangkat senjata.
Perang hebat terjadi mulai dari Probolinggo yang merupakaan wilayah kerajaan Lamajang. Akibat kalah besar dalam jumlah pasukan, para senopatine Lumajang mundur ke Pajarakan dan terus bertempur demi mempertahankan kerajaan dan tanah kelahiranya.
                Perang terus terjadi mengusikan masyarakat wilayah utara Lumajang dan membuat mereka mengungsi ke hutan. Perang hebat di Pajarakan mengakibatkan Patih Nambi tewas ditangan senopati Mojopahit berserta 7 pengikutnya.
Pasukan majapahit terus merangsek maju ke arah Selatan untuk menguasai kerajaan Lamajang yang sekarang dikenal dengan Situs Biting. Tangguhnya benteng alam Lumajang dan strategisnya kerajaan yang dikeliling sungai menjadi kesulitan bagi pasukan majapahit untuk menjatuhkan.
Bukanya bisa menjatuhkan, pasukan majapahit malah bertumbangan oleh anak panah prajurit lamajang. Majapahit kewalahan dalam menaklukan Lamajang, akibat mundur. Perang di wilayah utara Kerajaan Lamjaang dikenal sebagai perang Bondoyudo, karena waktu yang lama dan memakan banyak korban pasukan Kerajaan Lamajang dan Mojopahit.
Kisah dan cerita rakyat serta ada hubungan fakta sejarah, betapa hebatnya Lumajang dimasanya. Benteng Kokoh itu masih ada dan memiliki aura kehebatan orang Lumajang Kuno

No comments:

Post a Comment